Jangan Anggap Receh Doa di Media Sosial

photogrid_1478347842696Welcome to the new era! Kita manusia sedang merasakan nikmatnya perkembangan ilmu pengetahuan, manusia mempelajari hal-hal baru, mengetahui kebenaran-kebenaran baru, menciptakan pemahaman-pemahaman baru, sampai mampu membuat penemuan-penemuan baru. Mulai dari pemahaman baru dalam dunia ide mengenai bahwa kehidupan manusia sebenarnya ga jelas arah dan tujuannya serta ga jelas pegangan hidupnya menurut para NIHILISME, sampai hal-hal yang berbentuk material hasil dari kemajuan pemikiran dalam hal teknologi, cellphone; computer; smart tv dan segala macamnya.

Ya persetanlah dengan pendapat NIHILISME, karena gua percaya akan adanya setan, gua percaya kesempurnaan manusia ga bisa disaingin setan, tapi kesempurnaan ketaatan setan kepada ALLAH ga akan pernah bisa disaingin oleh seluruh umat manusia.

Godaan-godaan setan itu merasuk di pemikiran umat manusia, khususnya manusia di bumi Indonesia, merasuki pemikiran-pemikiran yang menganggap kemajuan ilmu teknologi beserta produk-produknya adalah hal “buruk”, ekstrimnya, ada yang menganggap produk teknologi yang disebutkan di atas harus dihindari. Hahaha

Anggapan buruk yang berkembang di beberapa kepala pribumi Indonesia terhadap ilmu teknologi dan produk-produk turunannya banyak didasari hanya karena pelaku-pelaku dibalik perkembangan ilmu tersebut didominasi oleh makhluk hidup peradaban barat dan Negara corporate; Negara yang banyak pemodalnya, ya kita anggap Negara Maju. Dan kebetulan, dalam sejarahnya, Indonesia adalah Negara berkembang, serta Negara dunia ketiga; yang banyak dilecehkan hanya karena dianggap pernah dijajah. Nilai historis Negara kita ini sedikit banyak juga menjadi semen pondasi stigma buruk yang dicapkan pribumi kepada teknologi.

Ya ini lebih seperti phobia inlander(inlander-phobia), ketakutan akibat menjadi korban jajahan. Dapat menjadi sebuah “phobia” ya karena beberapa pribumi yang mencap buruk teknologi, menganggap Negara kita pernah diinjak-injak oleh negara-negara yang letaknya agak ke arah barat, dan kepentingan negara tersebut mencaplok Negara kita pada waktu itu ya hanya untuk memperkaya negaranya sendiri, ya ambil contoh Belanda, sebelum 1945 memeras pribumi dengan kerja paksa sampai tarik upeti dari hasil bertani, lalu pasca ’45 menjajah dengan Agresi Militer II karena merasa kehilangan “mata pencaharian” kekayaan kerajaannya.

Sampai saat ini sih masih ada negara-negara lain yang mencaplok Indonesia dengan melepaskan jubah Negara menggantinya dengan pakaian “corporate”/perusahaan. Hal-hal inilah yang membuat inlander-phobia terbentuk di alam pikiran pribumi, membuat hal-hal yang berhubungan dengan Negara penjajah(di masa lalu) selalu dianggap buruk; harus dilawan harus dihindari ga boleh digunakan, khususnya untuk ilmu teknologi dan produk-produk teknologi.

Namun kenyataannya Negara kita lewat pemerintahannya toh mempermudah akses masuknya barang-barang produksi pemikiran ilmu teknologi, alhasil kita menikmatinya detik ini pada saat kalian membaca paragraf ini, gua menulisnya melalui gawai pintar(gadget), kalian membacanya pun juga hasil bantuan dari produk teknologi. Ya ini membuktikan usaha yang dilakukan oleh inlander yang phobia-nya terlalu ekstrim untuk membatasi penggunaan produk dari negara kapitalis telah gagal.

Fobia yang dialami para korban jajahan(inlander-phobia) ga hanya sebatas menggerogoti pikiran mereka-mereka yang anti menggunakan produk teknologi. Gua rasa fobia ini juga udah merayap di kepala-kepala pengguna produk teknologi dan penikmat dunia maya.

Pernah kan nemuin postingan atau update’an yang isinya pengharapan atau pun permohonan, yang ditujukkan kepada sang Khalik, Tuhan. Bukan mereka kok si inlander-phobianya, mereka adalah makhluk-makhluk yang beriman dan berkomunikasi dengan sang Khalik dengan gaya dinamis; ngikutin zaman. Orang-orang yang mengidap inlander-phobia di sini yaitu kita-kita nih umat manusia yang masih menganggap bahwa berdoa di media sosial adalah hal konyol dan kita anggap ga layak untuk dilakukan.

Hey hoi!!! buat kita-kita yang masih punya cara pandang skeptis(m) dengan menganggap remeh doa di medsos, coba deh koreksi lagi kitab-kitab yang lu pada baca. Emang sih agama lu urusan lu, iman lu urusan lu, gua ga berhak mandang rendah ajaran agama yang gua anut atau pun yang lu anut. Tapi coba deh koreksi lagi, khususnya terkait sifat-sifat yang melekat kepada sang Khalik.

Ada ajaran yang memperkenalkan 99 sifat, Asmaul Husna. Yang Maha Pengasih hingga Yang Maha Sabar. Ada 99 sifat tuh, banyaaak, cek dewek deh, resapi dewek, refleksikan dewek konsep Tuhan yang ada di kepala kalian. Mari kita anggap Tuhan bukanlah zat yang perlu mondar-mandir ke sana-sini untuk memperhatikan kita, tetapi seluruh kehidupan kita yang ada di “genggaman” Tuhan karena ke-Maha-an yang melekat pada Tuhan.

Kehidupan kita, bahkan alam semestaaaaa ini, ada di genggaman Tuhan. Galaksi Bima Sakti yang isinya Matahari sampai planet buangan Pluto, isi pikiran kita, segala rahasia dan segala hal berarti ada di genggamannya. Kalo di mitologi Hindu ya alam semesta ada di dalam mulutnya Dewa Krisna.

So, entah beribadah dan baca doa di Masjid, Gereja, Vihara atau pun Pura; apa bedanya sama sedikit berharap dan berdoa lewat media sosial? Shalat dengan sujud agar tidak lupa untuk “membumi” ingat ke bawah dan di Masjid agar dapat berjamaah, Gereja yang bukan hanya nyanyi-nyanyi tetapi berkumpul bersekutu dan hanya bersifat pembekalan untuk kehidupan ketika kembali menjalani rutinitas kehidupan masing-masing di luar Gereja(gedung), begitu pun Vihara dan Pura. Bukan kah semua tempat ibadah itu bersifat sebagai “media” atau “perantara”?

Tuhan punya 99 sifat, entire life in the universe are under the power of Tuhan, kurang Maha apakah Tuhan sampai doa di media sosial dianggap ga perlu, dianggap konyol, dianggap ga penting, diremehin? Buat apa kita underestimate ke orang-orang yang punya kepercayaan bahwa doa-nya di media sosial akan menghasilkan sesuatu untuk yang ia doakan, buat apa woi kira remehin?

Tuhan itu Maha, kuasa Tuhan ga terbatas, ga ada yang mampu ukur. Lu anggap receh doa-doa dan pengharapan orang-orang lewat postingan dan update’annya di media sosial; itu sama aja lu ngeremehin ke-Maha-an Tuhan, sama aja lu ngeremehin sifat-sifat yang melekat pada Tuhan.

Cuma satu jenis manusia yang boleh ngeremehin kekuatan usaha dibalik doa yang diselipkan lewat postingan-postingan di media sosial, mereka para Atheis; yang ga percaya dengan keberadaan Tuhan. Udah mereka doang, lu masuk ke golongan mereka? Main yang jauh kata Justin Bieber; “You should go and love yourself”, biar lu ngerti caranya mencintai hidup. Bye!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s