STOP SOK-SOKAN MENJADI HAKIM DAN TUHAN!

20160908_155846Yuk coba Negara ini kita anggap sebagai “rumah”, yg namanya rumah, khususnya untuk tanah goyang-labil harus dikasih dasar, supaya bangunan “rumah” kokoh. Indonesia itu rumah kita men, orang-orang jaman dulu yg penuh kontroversi dan rahasia, para bapak-Bangsa, udah bikinin dasarnya. Pancasila.

Dulu 5 Dasar yg tsadist ini sempat digonjang-ganjingkan dengan dengan Piagam Djakarta (HAHA). Emang semangat luhur orang Indonesia bukan Negara Agama men, ga bisa dipaksa ngaceng ke arah Negara Agama, semangat Negara kita ya Negara Pluralism meski bukan Multikulturalism, Negara kita kuat di Budaya. Dan Pancasila dari jaman 45 udah mendasari semua hal itu.

Yang pertama dan utama, Bintang Kejora dengan background Hitam, sila pertama; Ketuhanan Yang Maha Esa. Bukankah setiap WNI harus menerapkan Pancasila? Ya?

Apa di Indonesia ini gua doang yg punya interpretasi bahwa sila pertama mewajibkan kita percaya Tuhan melalui agama masing-masing? Ga kan?

Seorang mahasiswa UI-PNJ dan UNJ bikin opini “khilafah” untuk DKI Jakarta dan mencerca 1(satu) nama yg jelas kok mahasiswa yg lain yg ribet?

Mahasiswa itu punya hak toh untuk menyampaikan pendapat? Isi pendapatnya jelas toh menunjukkan bahwa dia adalah umat beragama? Bener toh Agama bilang jangan dukung kafir?

Menyampaikan pendapat, jelas apa yg mereka sampaikan itu dilindungi UUD45 Pasal 28E ayat 3; berhak atas kebebasan berpendapat. Bawa-bawa Agama, ya apa yg mereka lakukan lagi-lagi sesuai amanah UUD45 Pasal 28E ayat 1 dan 2; bebas memeluk agama dan beribadat; berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan. Salahkah bila mereka percaya bahwa DKI Jakarta harus dipimpin muslim? Salahkah mereka punya harapan agar masyarakat jangan pilih pimpinan kafir?

Gua pikir lagi, kayaknya kita ga punya hak apa-apa buat judge apa yg mereka lakukan itu benar atau salah. Karena gua liat ya mereka menyebut satu nama orang yg jelas dengan judge “kafir”. Dan harusnya semua orang atau warga Negara yg sadar kakinya ada di tanah berhukum ga usah banyak ikut campur bahkan menyimpulkan mereka salah deh.

Menurut gua yg bisa terlibat jauh mengenai benar atau salah hanya Tuhan, bapak Gubernur DKI, dan Negara (dengan meja hijau). Kita sebagai audience, kita sebagai penonton, kita sebagai masyarakat, kita sebagai publik ya cuma bisa beropini. Ya opini, bukan hal yg paten dan mutlak kebenarannya.

Lu bisa apa kalo emang si Gubernur ga mau melapor atau mengadu ke Negara (Polisi/pengadilan/KPI)? Lu bisa apa kalo emang si Gubernur dengan lapang dada dan bijaksananya cuma bisa mengelus dada dan mendoakan mereka yg mencerca?

Ngerasa agama lu ga kaya yg disampaikan mahasiswa-mahasiswa GP itu? Terus lu mau apain mereka yg ga sama pemahamannya kaya lu pada, mau lu pukul? Atau mau lu hina dan cerca balik? Buset.. Kayaknya KTP kita semua masing-masing sama-sama jelas keterangan di kolom Agama.

Agama gua atau agama lu emang ngajarin buat nyibir?
Emangnya Negara ini menjadikan opini sebagai indikator penetapan putusan salah dan benar? Lah kalo si Gubernur ga lapor lu mau apa, tolol?

Udah deh, jadi warga Negara dan umat Agama yg simple ga ribet dan ikutin aturan main Negara dan anjuran Agama masing-masing ajalah, ga usah repot. Kaya kata bung Hatta aja sih, pegangan utama itu ya Budaya/kultur/primordial masing-masing aja, kalo ada kurangnya ditutupin pake ajaran-ajaran Agama.

Kalo aturan Budaya/kultur/primordial dan ajaran Agama masih ada celah kekurangan lagi, lu ga usah repot, orang-orang yg duduk di Kursi Pemerintahan dan Perwakilan ga goblok-goblok amat kok, mereka pasti nyari tutupannya.

Kalo kita sebagai masyarakat ngerasa tutupannya masih ada yg kurang, ya usulin baik-baik ke mereka yg duduk di Kursi. Kalo ga didengar? Ya demonstrasi peler.
Tenang, UUD45 Pasal 28E ayat 3 bunyinya jelas kok; Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.

Itu tulisannya jelas, “mengeluarkan pendapat”. Udah ga usah sok-sok jadi Hakim dan Tuhan lu semua. Kehidupan ini yg bisa nentuin benar dan salah cuma Hakim dan Tuhan. Baca makanya, jangan makanin bacaan.
Wassalam!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s