#4 Melankolis

Melankolis—

Gua sebagai penulis, dalam menulis 4 dasar sifat milik Hipokrates hanya bersumber pada 1 buku dan 2 link yang menjadi favorit bacaan psikologi gua. Dari tiga analisa terawal; Sanguin, Koleris, dan Plegmatis, mungkin kalian yang sudah mengerti dan mengenal lebih dahulu tentang teori ini bakal bertanya-tanya kenapa kok ga sesuai dengan sumber bacaan kalian atau beda dari sepengetahuan kalian. Seperti yang sudah gua tuliskan di tulisan tentang Sanguin,, bahwa apa yang gua tumpahkan ke dalam tulisan ini adalah sebuah analisa subjektif dari pandangan gua sendiri, yang dimana gua mencoba menelaah dan mencoba menjabarkan hasil telaah gua ke dalam bentuk tulisan ini.

Perbedaan yang teman-teman pertanyakan sebenernya ga perlu dipertanyakan, teman-teman cukup mengingat pesan gua di awal bahwa tulisan gua merupakan memori yang sengaja gua pisahkan dari kepala agar gua ga terlalu terbebani dengan ide-ide yang hanya berputar-putar di kepala gua, dan dijadikan sebuah tulisan bertujuan agar gua mudah mengingat hasil telaah gua soal 4 dasar sifat dari Hipokrates. Jika memang hasil analisa gua agak berbeda dengan pemahaman para pembaca, coba teman-teman baca ulang dan ubah paradigma pengkhayatan teman-teman dalam membaca bahwa tulisan gua ini adalah essai semata, bukan literatur karya tulis dan sebagainya. Ingat, tulisan ini hanya catatan memori sang penulis, yang penulis manfaatkan untuk peninjauan kembali bila mana penulis sudah berkembang secara pengetahuan dan penerapan agar penulis tetap tersadar dengan perkembangan yang terjadi dalam diri penulis

Melankolis, kebanyakan dari kita pasti menganggap bahwa ini adalah satu terlemah dari 4 dasar sifat manusia. Bila menelaah secara awam, kata “Melankolis”, asosiasi masing-masing pembaca mungkin akan melahirkan sebuah pemaknaan sifat seseorang yang “melow” atau kemayu dan semacamnya. Gua bisa pastikan pemaknaan awam seperti itu cuma asumsi liar belaka, karena pada teorinya dikatakan bahwa Melankolis adalah karakter yang begitu sempurna, ya ini dia si Perfectionist.

Perfect-ness para Melankolis lahir atas dasar satu hal, pola pikir atau logika berpikir. ini hanya sebatas analisa subjektif dari penulis. Pola pikir para Melankolis yang begitu tertata dan sistematis serta sangat menghargai dan mengedepankan keteraturan, sehingga membuat para Perfectionist terlihat begitu sangat disiplin dalam hal berlogika, serta sangat mengedepankan pembuktian dalam usaha-usaha mencapai sebuah kesimpulan.

Proses berpikir para Perfectionist yang seperti ini—tertata; sistematis; teratur—yang membuat pola dan cara berpikir mereka begitu terlihat (ingin) sempurna. Kita boleh menganggap mereka terlihat ingin sempurna, atau pun menganggap mereka memang berpikir dengan cara yang sempurna. Yang mana pun yang anda jatuhkan, tetap para Perfectionist itu akan tetap seperti itu, ini sudah hukum alam yang membuat mereka terlahir dengan logika dan pola pikir seperti itu.

Bagi para pembaca yang kurang dapat menerima dengan opini penulis pada paragraf sebelumnya—tepat di atas paragraph ini—bisa dijamin bahwa kalian adalah si Perfectionist itu. Mengapa? Karena seperti yang sudah penulis sampaikan, bahwa Melankolis adalah orang dengan pola pikir sangat mengedepankan pembuktian dalam hal berusaha mencapai sebuah kesimpulan. Bagi pembaca yang menerima-menerima saja dan tunduk dengan opini penulis tanpa ada kegelisahan di benak seperti para Melankolis sudah dapat dipastikan kemungkinan kalian adalah si Superior atau pun si Superstar, karena pola pikir Sanguin dan Koleris tidak serumit Plegmatis dan Melankolis.

Pembuktian sebagai kunci dari sebuah pengambilan keputusan bukan satu-satunya hal yang dilahirkan dari keteraturan dan sistematisnya pola pikir dan logika Melankolis. Kadang kita yang bukan orang dengan tipikal pola pikir seperti Melankolis akan menganggap bahwa mereka (si Perfectionist) berpikir terlalu lama dalam menyimpulkan sesuatu, atau pun terlalu bertele-tele dalam menyampaikan pendapat, atau idenya yang terlalu aneh dengan begitu berbelitnya.

Padahal bukan para Melankolis yang lelet berpikir, atau bertele-tele, dan juga bukan karena idenya aneh, mungkin saja itu semua karena logika kita masih berada di bawah taraf berpikir para Melankolis, sehingga kita menganggapnya seperti itu. Hati-hati, Melankolis memang terasa begitu bertele-tele dalam menyampaikan pendapat, bagi kita yang lemah logikanya, itu karena kesempurnaan cara berpikir para Perfectionis dan juga mungkin dikarenakan taraf berpikir kita memang tertinggal dari mereka. Intinya Melankolis selalu seperti itu; rumit, terkesan bertele-tele bagi yang lemah logikanya, dan Melankolis memiliki cara berpikir yang begitu cerdas, jika mereka sadar akan keteraturan cara berpikir dari syaraf-syaraf otak mereka yang begitu kusut.

Sifat sempurna, pemikir, dan empiris atau tipikal butuh pembuktian, ini si Melankolis. Di mata orang yang pola pikir tidak secanggih Melankolis memang akan menganggap si Perfectionist bertele-tele, tapi sesungguhnya mereka memang orang yang lamban, mereka adalah makhluk terakhir di bumi ini yang akan menyadari segala kelebihan; potensi dan segala sesuatu hal yang menonjol di dalam hidupnya.

Segala kelebihan yang dimiliki para Melankolis pasti akan disadari lebih dahulu oleh orang-orang di sekitar mereka yang menangkap segala potensi yang ada di diri si Melankolis, biasanya mereka baru akan tersadar akan potensi di diri mereka sendiri setelah orang-orang di sekitarnya memberi penyadaran kepadanya tentang potensi dan kelebihannya, dan meskipun sudah diberitahukan mereka akan tetap meresponnya dengan lamban dan tidak cepat mengambil kesimpulan, pasti mereka memproses hasil opini-opini yang diterimanya.

Jadi bila pembaca menemukan makhluk dengan gaya hidup yang suka merendah, jangan suuzon dan menganggap orang tersebut merendah karena ingin terlihat begitu tinggi, bisa saja ternyata mereka memang tipikal melankolis yang tidak cepat tinggi bila dipuji akan kelebihannya karena memang dia kurang menyadari atau pun belum menyadari kelebihan dan potensi yang dimilikinya. Suuzonitas pembaca lebih baik dialihkan untuk menjudge orang tersebut, bahwa dialah sang Sempurna-Perfectionist, Melankolis.

Dengan alasan penumpukan rasa malas serta diakumulasikan dengan distorsi ide serta pemikiran, penulis mohon maaf harus ingkar atas janji yang dilontarkan pada tulisan penulis tentang Plegmatis. Semoga ingkar janjinya penulis tidak menyebabkan lunturnya status penulis yang telah dibaptis. Dan juga tidak membuat pembaca menjadi malas membaca-menulis.

Sekian tulisan dari penulis di pagi kamis. Salam amis!


Satu respons untuk “#4 Melankolis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s